Westernisasi Dan Budaya Lokal

Di akun twitter saya beberapa saat lalu, saya menulis : “Gua harap di kota-kota berkembang di nusantara kita ini ke depannya ga didiriin mall besar atau resto fast food yg berlebih. Biar warganya masih berbudaya” ya kurang lebih begitu. Dan muncul respon dari teman saya, Bro Sesa, “memang kebudayaan lokal bisa hilang seiring berdirinya mall atau resto fast food? Coba diperjelas di blog”

Westernisasi. Ya awal mula dari semua ini menurut saya dari kata itu. secara kasar berarti proses membuat kita menjadi agak terbarat-baratan. Westernisasi ini sudah berkembang pesat di masyarakat luas. Dan hal ini menuntut kita untuk mewasspadai manakah yang bisa diterima dan mana yang tidak perlu diikuti. Sebagai masyarakat yang menjadi objek westernisasi kita harus sangat selektif dengan apa yang mempengaruhi budaya kita, terlebih lagi yang tidak sesuai dengan budaya bangsa timur. Westernisasi memberikan dampak positif atau negatif, kan? Mungkin kalo dampak positifnya saya pikir semua sudah tau, seperti kita “dituntut” bisa berbahasa inggris, melek teknologi, dan fashion serta lainnya. Nah kalau dampak negatifnya pasti ke budaya kan?

Oke, merujuk ke tweet yang menjadi topik pada tulisan saya sekarang, saya akan condong membahas dampak negatifnya westernisasi.

Sebelumnya saya ingin bertanya, kota mana yang telah terpengaruh westernisasi yang masih menyisakan budaya lokalnya? (dalam artian budaya lokal mempunyai presentasi lebih besar daripada westernisasi). Ya, ini saya pun belum menemukan datanya, tapi menurut saya belum ada(atau saya belum tau itu beda urusan ya :mrgreen:

Emang budaya local bisa hilang seiring berdirinya mall atau resto fast food(RFF)?

Kalo jawaban saya sih, iya.

Kenapa?

Westernisasi atau proses mempengaruhi lainnya pasti dimulai dari hal-hal kecil, saya ambil contoh di tempat saya tinggal sekarang, Purwokerto. Mayoritas penduduk di sentral(yg sering banyak orang) kotanya itu anak rantau alias nonpribumi. Yang menurut saya jiwa ingin dianggap gaulnya besar banget (kok jadi tuwir gini gue). Jika didirikan mall atau RFF, saya yakin akan diekspansi penuh oleh anak rantau. Ya kan? Marketing place tuh.

Nah, ekspansi anak rantau ini kan hanya berlangsung ketika mereka disini saja, selain itu yang mengisi tempat2 itu siapa? Warga lokal. Saya yakin masyarakat disini tidak ingin ketinggalan zaman. Umumnya, warga daerah itu tidak mempunyai filter yang cukup. Bisa dikatakan “asal jebret”. Lingkungan itu punya peran besar dalam apa yg ingin kita lakukan, kan?

Ah kata siapa?

Nanti jadi gagap budaya dong?

Seperti yang sebelumnya sudah saya tulis, masyarakat atau pemuda dimanapun pasti punya hasrat untuk tidak ketinggalan zaman. Segala cara dilakukan untuk terlihat tidak ketinggalan zaman. Faktanya di kota besar: Pernah liat anak SD pegang BB? iPad?. Di kota kecil, ya jawaban sebelumnya bisa dijadikan contoh menurut saya.

Kesimpulan saya, Kalo di daerah-daerah didirikan mall atau RFF, terus yang jadi pembeda sama kota metropolitan apa? Selain “makan tempat”, hilang juga daya tarik daerah tersebut. Menurut saya lahan yang misalnya direncanakan untuk mall, bisa dibangun yang lain seperti, galeri nasional dan lain-lain.

Saya bukan anti-Mall, saya juga salah satu penikmat mall di kota asal saya. Saya hanya kurang setuju dengan pendirian banyak mall di daerah. Ya selain akan mudah melupakan budaya, hilangnya daya tarik atau pembeda dengan kota metropolitan lain itu menjadi salah satu alasan saya.

Pesan saya si kita sebagai masyarakat wajib mempertahankan sikap nasionalisme agak tidak selalu terkena dampak negative dari westernisasi itu.

Syukron

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s